Fakta Unik Mengenai Titanic: Kisah Jack dan Rose yang ‘Asli’

Titanic adalah sebuah film yang rilis pada 1997 lalu dan terinsprasi dari tenggelamnya kapal Titanic di tahun 1912. Di dalam film ini mengisahkan dua pasang sejoli yang terhalang oleh kasta, Jack dan Rose.

Jack Dawson merupakan seorang pelukis miskin dan dapat berlayar dengan kapal mewah tersebut karena ia memenangkan judi poker. Berbeda dengan Jack, Rose adalah penumpang yang berada di kelas satu dan ia tengah dijodohkan tanpa rasa cinta dengan seorang pengusaha kaya sukses bernama Caledon Nathan Hockley.

Siapa pun yang menyaksikan film ini pasti akan ikut terpukau dengan kisah di dalam film ini. Bahkan mungkin setelah menonton Titanic, banyak yang langsung menelusuri mengenai bagaimana kapal mewah yang diklaim tidak bisa tenggelam ini kini bisa berada di kedalaman 4 kilometer di laut Atlantik.

Lalu apakah kisah antara Jack dan Rose adalah kisah nyata? Berikut adalah penjelasannya.

Kisah Jack dan Rose

Di dalam film, Rose digambarkan sebagai seorang wanita cantik di kelas satu yang selamat meski telah tercebur ke dalam lautan yang penuh dengan es. Ia pun diselamatkan oleh sekoci yang kembali untuk mencari korban selamat.

Kisah Rose ini mungkin tidak benar-benar ada di dalam dunia nyata, namun ada sosok yang menjadi inspirasi, yaitu kisah dari Rhoda Mary Rosa Abbott. Wanita ini adalah penumpang dari kapal Titanic di kelas tiga bersama dengan dua anaknya, Rossmore Edward (16) dan Eugene Joseph (13).

Rodha dan kedua putranya terbangun karena bunyi mengerikan. Rodha pun menghampiri kelasi dan bertanya tentang bunyi mengerikan tersebut. Sang kelasi menjawab kalau semuanya baik-baik saja.

Karena hal tersebut, Rodha dan dua putranya pun kembali ke kamar. Bahkan belum memejamkan mata, pintu kamar mereka digedor dengan sangat keras. Merek diminta untuk naik ke dek dengan menggunakan jaket pelampung.

Setibanya di dek kapal, mereka bergabung bersama dengan orang yang panik. Sekoci yang sudah diturunkan hanya boleh diisi oleh perempuan dan anak-anak. Rodha yang mendapatkan kesempatan untuk naik ke sekoci mendadak membalik badannya. Ia melihat kedua anaknya dan memeluk mereka.

Sekoci pun meninggalkan Rodha yang masih memeluk kedua anaknya. Kala itu jam sudah menunjukkan 02.00 pagi.

Titanic yang mulai miring pun membuat situasi semakin mengerikan. Para wanita dan anak-anak semakin berebut untuk masuk ke dalam sekoci terakhir, namun Rodha masih tidak beranjak bersama dengan kedua anaknya.

Ketiganya bersama-sama jatuh ke laut setelah gelombang besar menyapu dek. Rodha pun terseret oleh pusaran yang timbul karena tenggelamnya kapal Titanic dan membuatnya nyaris tenggelam.

Ketika ia kembali muncul ke permukaan, ia tersedak oleh air yang masuk ke dalam tenggorokan. Ia pun mencari kedua buah hatinya di tengah ratusan penumpang yang panik di tengah laut dengan dingin -2 derajat celcius. Tapi ia tidak kunjung menemukan dua buah hatinya.

Nyaris menyerah dan pasrah akan ajal, ia tiba-tiba ditarik oleh sepasang tangan. Ia ditarik ke dalam sekoci Collapsible A yang sudah dipenuhi oleh manusia bergantung nyawa.

Sesaat, sapuan ombak besar kembali datang dang menggulung sekoci. Orang-orang kembali berusaha untuk naik. Ada beberapa yang berhasil, namun ada juga yang gagal.

Rodha mengakui ia tidak tahu bagaimana caranya dapat kembali naik ke atas sekoci. Dua puluh orang pun berusaha untuk tetap bertahan di atas kapal yang tidak seberapa besar tersebut, mereka berusaha agar sekoci tidak kembali oleng dan menumpahkan mereka.

Sekian jam berlalu, lautan yang tadinya penuh akan rasa panik penumpang mulai terasa sunyi. Mereka tidak kuasa untuk menahan rasa dingin dan akhirnya menangani hiportemia, mereka beku.

Rodha pun diselamatkan oleh sekoci yang kembali ke lokasi tenggelamnya kapal, sekoci yang berada pada kemudi perwira Harold Lowe.

Para korban kapal Titanic pun dibawa ke kapal Carpathia yang mengantarkan mereka untuk kembali ke daratan New York. Saat itu Rodha sudah dalam keadaan sekarat.

Namun, wanita ini berhasil untuk selamat. Ia tutup usia pada 18 Februari 1946. Sepanjang hidupnya ia terus dirundung duka karena kehilangan kedua putranya.

Rodha pun mendapatkan julukan sebagai Lady of Sorrows Titanic.

Lalu bagaimana dengan kisah Jack Dawson? Sosok J Dawson memang benar-benar merupakan korban dari kapal Titanic, namun karakter Jack di dalam film Titanic tidak memiliki kaitan dengan sosok J Dawson.

Namun, yang benar-benar menjadi inspirasi dari kisah Jack diyakini merupakan sosok dari seniman Italia bernama Emilio Portaluppi. Berbeda dengan Jack yang berada di kelas tiga atau kelas terendah, Portaluppi merupakan penumpang yang berada di kelas dua.

Portaluppi pun dikisahkan menyukai seorang perempuan yang merupakan kelas satu namun sudah menikah. Wanita bernama Madeleine Astor tersebut menemani suaminya, John Jacob Astor IV di kapal tersebut.

Madeleine Astor adalah wanita yang masih muda dan memiliki paras cantik. Naasnya, ia kembali ke New York dalam kondisi menjanda.

Berbeda dengan Jack yang tewas kedinginan di tengah lautan Atlantik, Portaluppi menjadi korban selamat. Pria yang kala itu berusia 30 tahun ini tidak banyak mengisahkan mengenai pengalaman buruknya saat hampir mati karena karamnya Titanik.

Namun, di akhir hidupnya ia menceritakan tentang sedikit pengalaman hidupnya. Pria ini berhasil mendapatkan tiket untuk naik ke Titanic karena menang main kartu, sama dengan apa yang dilakukan Jack dalam film Titanic.

Ini merupakan kesempatan unik untuk Portaluppi, karena ia mendapatkan kesempatan untuk berlayar bersama dengan Titanic dalam pelayaran perdana mereka.

Meski berada di kelas dua, ia sempat menikmati berada di pelayaran kabin kelas satu karena ia mendapatkan undangan. Di sanalah ia bertemu dengan istri Astor, yakni Madeleine Astor.

Ketika kejadian naas tersebut terjadi, ia mengira kalau kapal sudah akan tiba di New York. Ia pun keluar dari kamar dengan hanya menggunakan jubah tidurnya lalu pergi ke dek.

Awalnya ia ingin melompat ke atas sekoci yang hanya diisi oleh perempuan dan anak-anak, namun ia berakhir tercebur ke laut dan ia berenang selama dua jam sebelum akhirnya ditarik ke atas sekoci 14.

Karena hal yang dialaminya ini, ia melayangkan gugatan ke Ocean Steam Navigation Company sebesar US $25 ribu karena kerugian fisik dan materi yang dialaminya.

Uniknya, di dalam film Jack mengatakan kepada Rose kalau ia akan mengajukan gugatan ketidakpuasan karena kapal tenggelam saat mereka sudah mengapung di atas laut.

Bagaimana kisah Jack dan Rose ‘Asli’ ini?

Artikel yang Direkomendasikan